新闻是有分量的

印度尼西亚银行:Tidak ada gambar palu arit pada pecahan Rp100.000

发布时间2016年11月14日上午9:38
已更新2016年11月14日上午9:39

Bank Indonesia menegaskan,tanda logo BI pada uang kertas pecahan Rp100.000 bukan gambar palu arit。 Foto oleh Muhammad Adimaja / Antara

Bank Indonesia menegaskan,tanda logo BI pada uang kertas pecahan Rp100.000 bukan gambar palu arit。 Foto oleh Muhammad Adimaja / Antara

雅加达,印度尼西亚 - 印度尼西亚银行(BI)mengeluarkan pernyataan resmi bahwa tidak ada lambang palu arit pada uang kertas pecahan Rp100.000 yang baru。

Melalui pernyataannya di Jakarta,Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia,Arbonas Hutabarat menegaskan bahwa yang dikira masyarakat merupakan tanda palu arit,ternyata adalah logo BI yang dikemas dalam teknik rectoverso -suatu teknik pengamanan yang telah digunakan bank sentral itu sejak 1995。

“Rectoverso tidak dirancang untuk membentuk atau dimaknai sebagai gambar atau simbol lain,selain lambang Bank Indonesia,”kata Arbonas pada Minggu,11月13日。

Sebelumnya,beredar penafsiran di beberapa kalangan masyarakat di media sosial mengenai rectoverso atau gambar dengan teknik saling isi pada uang kertas Rp100.000 sejak Jumat,11月11日,pekan lalu。 Di media sosial,terutama Facebook,gambar itu ditafsirkan sebagai gambar palu dan arit,yang dikenal sebagai simbol komunisme。

“Informasi atau penafsiran itu tidak benar,”kata Arbonas。

Ia menjelaskan rectoverso merupakan unsur pengaman dalam fisik uang agar mudah dikenali keasliannya dan tidak bisa dipalsukan。

Untuk melihat gambar utuh dalam rectoverso ,uang harus diterawang。 Jika diterawang, gambar rectoverso dalam uang Rp100.000 tersebut akan menampilkan logo Bank Indonesia。

Namun,jika dilihat tanpa diterawang gambar akan terlihat seperti ornamen yang tidak beraturan。

Selain pada pada uang kertas rupiah,unsur pengaman rectoverso juga digunakan negara-negara lain seperti pada uang kertas ringgit Malaysia yang membentuk ornamen bunga,dan uang kertas euro yang membentuk ornamen nilai名义上的。

“Dengan memahami unsur-unsur keamanan dalam uang,masyarakat diharapkan dapat lebih mudah mengenali keaslian rupiah dan tidak mudah terprovokasi informasi yang belum jelas sumber beritanya,”katanya。 -Antara / Rappler.com